Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono Lakukan 4 Kontroversi Ini Ketika Pandemi


Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono kembali membuat pernyataan kontroversi, dimana kali ini dirinya menuding bahwa terjadinya lonjakan kasus Covid-19 lantaran unsur kesengajaan dari pihak rumah sakit. Menurut Budhi, rumah sakit saling berebut pasien demi mengejar keuntungan dari biaya perawatan karena biaya setiap hari antara Rp. 6,25 juta hingga Rp. 10 juta.

Selain itu dilansir dari berita viral terbaru hari ini, ketika pandemi Budhi juga sempat nonton bareng gelaran kesenian wayang kulit di Desa Gembongan, Kecamatan Sigaluh. Padahal angka kasus Covid-19 tengah mengalami tren peningkatan yang cukup tajam di sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Berikut dibawah ini 4 kontroversi yang dilakukan Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono ketika pandemi :

1. Memberi Izin Warganya Gelar Hajatan

Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono mengambil kebijakan untuk tetap memberikan izin kepada warganya yang hendak menggelar keramaian seperti hajatan, pengajian, pesta kesenian, dan juga olahraga. Padahal tengah terjadi peningkatan kasus Covid-19 di Jawa Tengah.

Menurutnya, kebijakan yang diambilnya sudah sesuai dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Sebagai Ketua Gugus Tugas Covid-19 tingkat Kabupaten, Budhi mengatakan bahwa selama desa tersebut tidak masuk dalam zona merah, maka tidak ada alasan untuk dirinya melarang warga menggelar keramaian.

Tentunya gugus tugas mengizinkan, pemerintah hadir bukan untuk membubarkan namun untuk mengedukasi tentang protokol kesehatan.

2. Nonton Bareng Wayang Kulit

Bahkan Bupati Budhi ketika pandemi juga nonton bareng kesenian wayang kulit di Desa Gembongan, Kecamatan Sigaluh pada Minggu (20/6/2021) malam. Acara kesenian yang dihadiri oleh dalang Ki Miskal Sujono dan 150 penonton tersebut berlangsung tertib dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat.

Semua penonton tampak tertib memakai masker dan kursi penonton juga ditempatkan berjarak. Serta terdapat pemindai suhu badan dan air untuk mencuci tangan.

Budhi melalui rilis tertulis mengatakan bahwa baik itu penonton, pemusik, seniman, dan siden semuanya maskeran dan menjaga jarak. Mereka tidak ada yang saling berdempetan.

3. Bupati Banjarnegara Tuding RS “Covidkan” Pasien

Diberitakan pada Rabu (30/6/2021), Budhi menuding lonjakan kasus Covid-19 lantaran kesengajaan dari pihak rumah sakit. Menurut pantauannya, rumah sakit di Kabupaten Banjarnegara agak berebut pasien Covid-19. Sebab standar agak lumayan juga. Yang dirinya ketahui hingga saat ini ada laporan dari dinas untuk biaya tiap hari minimal Rp. 6.250.000, maksimal hingga Rp. 10.000.000 per hari.

Budhi menilai, tingginya biaya klaim tersebut mengakibatkan RS saling berebut pasien, demi mengejar keuntungan dari biaya perawatan yang didapat. Budhi berujar, jadi yang dicari rata – rata pasien Covid semua, dan jika diswab, dari 10 orang yang positif Covid itu 6 atau 7 orang. Kemudian saat ini menjadi melonjak. Rumah sakit penuh, tempat isolasi juga penuh. Mereka berlomba – lomba membuat karantina lagi.

4. Sebut Ada Sales Yang Cari Pasien Covid-19

Dalam sebuah video yang beredar, Budhi mengatakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan sales marketing pihak rumah sakit yang disebut- sebut bernama Bejo. Menurut Budhi, sales tersebut mencari orang sakit Covid-19 untuk dirawat di rumah sakit.

Budhi mengatakan, sales tersebut akan memperoleh honor dari setiap pasien yang berhasil dibujuk untuk di rawat di rumah sakit. Jika dirawat dengan mobil sendiri Rp. 200.000, namun jika diambil pakai ambulans rumah sakit honornya Rp. 100.000. Menurut Budhi, mafia pasien tersebutlah yang membuat angka Covid-19 di sejumlah daerah melonjak.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono Lakukan 4 Kontroversi Ini Ketika Pandemi"

Posting Komentar